Sebuah sepi yang ramai
Hai! Lama tidak menyapamu lagi. Aku rindu dengan wajahmu yang putih itu, yang biasa aku coret dengan beberapa kisahku setiap kita bertemu. Hari ini aku hanya coretimu dengan satu kisah saja. Ini tidak jauh dari rasa dan asaku saja tentang hidup yang waktunya selalu saja memaksaku untuk terus melangkah. Padahal, aku sudah ingin berhenti dan istirahat sejenak. Tetapi, waktu lagi-lagi tidak mengizinkan aku. Langsung saja aku memulai kisahku yang mungkin akan sedikit mengotori wajahmu.
Di siang itu aku sedang asik meneguk choco flower yang aku pesan pada pelayan, beberapa menit setelah aku masuk di sebuah cafe bernuansa bunga-bunga. Sekilas rasanya hanya sebuah coklat yang diblender dengan es batu lalu dihiasi dengan cream, sepotong anggur, dan sedikit aroma bunga mawar. Di tempat itu sepertinya hanya khusus untuk perempuan saja, karena dekorasi tempatnya dipenuhi hiasan bunga yang berwarnawarni, hiasan dinding yang lucu untuk perempuan, sofanya yang berhiaskan gambar bunga-bunga mulai dari yang hijau sampai dengan yang pink, ada pula rangkaian bunga di sudut ruangan yang sangat menyegarkan mata dan beberapa lampu-lampu yang terlihat mewah melengkapi tempat itu.
Aku duduk di depan setumpukan rangkaian bunga mawar putih yang dilengkapi dengan aromanya yang begitu menusuk ke hidung lalu turut menenangkan hatiku yang sengaja aku buat sepi setelah dia ramai seperti tempat ini. Aku menyukai sepi yang sekarang dia jauh lebih tenang dari usikan yang hanya memenuhi saja.
Aku terkadang menganggap sepi itu tidak hanya sekedar sendiri. Terkadang pula sepi yang dirasakan ternyata jauh lebih ramai dibandingkan ramai yang sebenarnya ada. Aku hanya ingin sepi ini terbawa hingga ada ramai yang bisa betul-betul membuatnya ramai seperti sepi yang sekarang sudah aku ciptakan.
Di sela sepi yang aku ciptakan ini memang tidak begitu saja berjalan dengan baik, selalu saja ada ramai yang tidak aku inginkan datang dan hanya datang untuk mengusik kesepianku. Dia berpikir aku sepi dengan sepiku. Dia salah! Aku ramai disepiku yang sekarang.
Bisa aku simpulkan bahwa sepi yang diciptakan oleh pencipta sepi itu sendiri bisa jadi ramai dengan caranya, bukan berarti sepi itu tidak menyenangkan. semua tergantung dari pencipta sepi itu sendiri. Aku adalah pencipta sepi yang membuat kesepianku menyenangkan karena aku menghiasinya dengan ramai yang aku ciptakan sendiri. Dan itu membuatku jauh lebih baik. Sekian!
Di siang itu aku sedang asik meneguk choco flower yang aku pesan pada pelayan, beberapa menit setelah aku masuk di sebuah cafe bernuansa bunga-bunga. Sekilas rasanya hanya sebuah coklat yang diblender dengan es batu lalu dihiasi dengan cream, sepotong anggur, dan sedikit aroma bunga mawar. Di tempat itu sepertinya hanya khusus untuk perempuan saja, karena dekorasi tempatnya dipenuhi hiasan bunga yang berwarnawarni, hiasan dinding yang lucu untuk perempuan, sofanya yang berhiaskan gambar bunga-bunga mulai dari yang hijau sampai dengan yang pink, ada pula rangkaian bunga di sudut ruangan yang sangat menyegarkan mata dan beberapa lampu-lampu yang terlihat mewah melengkapi tempat itu.
Aku duduk di depan setumpukan rangkaian bunga mawar putih yang dilengkapi dengan aromanya yang begitu menusuk ke hidung lalu turut menenangkan hatiku yang sengaja aku buat sepi setelah dia ramai seperti tempat ini. Aku menyukai sepi yang sekarang dia jauh lebih tenang dari usikan yang hanya memenuhi saja.
Aku terkadang menganggap sepi itu tidak hanya sekedar sendiri. Terkadang pula sepi yang dirasakan ternyata jauh lebih ramai dibandingkan ramai yang sebenarnya ada. Aku hanya ingin sepi ini terbawa hingga ada ramai yang bisa betul-betul membuatnya ramai seperti sepi yang sekarang sudah aku ciptakan.
Di sela sepi yang aku ciptakan ini memang tidak begitu saja berjalan dengan baik, selalu saja ada ramai yang tidak aku inginkan datang dan hanya datang untuk mengusik kesepianku. Dia berpikir aku sepi dengan sepiku. Dia salah! Aku ramai disepiku yang sekarang.
Bisa aku simpulkan bahwa sepi yang diciptakan oleh pencipta sepi itu sendiri bisa jadi ramai dengan caranya, bukan berarti sepi itu tidak menyenangkan. semua tergantung dari pencipta sepi itu sendiri. Aku adalah pencipta sepi yang membuat kesepianku menyenangkan karena aku menghiasinya dengan ramai yang aku ciptakan sendiri. Dan itu membuatku jauh lebih baik. Sekian!
Komentar
Posting Komentar