saat wanita itu membenci hujan
-->
siang itu terdengar jelas tangisan
seseorang dari arah utara tempatku duduk saat itu, aku menoleh kearahnya dan
melihatnya dengan sangat jelas, dia adalah sifa teman kelasku sewaktu sma. lama
skali aku tak bertemu dengannya dan sangat lama aku tidak menyapanya,perlahan
aku menghampiri wanita manis berkacamata ini, "hai", sapaku. tanpa
banyak berbicara dimemelukku penuh haru,pundak bajuku basah dengan air matanya,
tidak sanggup aku menanyakan ada apa, kubiarkan dia menangis. sejenak dia diam
lalu tertawa, "hahaha,,aku merindukanmu sinta,lama tidak merasakan pelukan
hangat ini, aku ingin bercerita banyak tentang ku",katanya. aku yakin dia
menyembunyikan kesedihannya tadi.
dia memang wanita yang unik pandai berakting
tapi matanya tidak bisa berbohong, dia menceritakan dirinya sekarang berkuliah
di salah satu universitas di bandung, dia tampak bahagia saat menceritakan
hidupnya. dia adalah salah satu temanku yang membenci hujan, bahkan dia sering
bersedih saat hujan turun persis saat kumenemukannya menangis waktu itu. aku
mengajak dia ke tempat tinggalku sekarang aku tinggal seorang diri orang tuaku
berada di luar daerah dan aku merantau disini,sejak sma aku hidup serba
sendiri, orang tua hanya memberiku dukungan dari sana.
di perjalanan air hujan mulai membasahi
sekujur tubuh kami tidak ada payung atau benda lainnya yang aku bawa untuk
terhindar dari derasnya hujan, aku melihatnya mulai tidak baik,mukanya memerah
dan mulai mengeluarkan air mata yang bercampur dengan air hujan, aku tidak
mengerti kenapa dia membenci hujan. "hey kau kenapa fa?",tanyaku.
"tidak,aku hanya ingin menangis saja".jawabnya tersenyum. hanya ada
tanda tanya besar dikepalaku saat itu, hujan tak kunjung berhenti sesampainya
kami di rumahku. aku segera menyuruhnya mengganti baju dengan bajuku dulu,
setelah itu bertemu denganku dimeja makan untuk kita menyantap makan malam,
tibanya dimeja makan pelan-pelan aku menanyakan hal yang sebenarnya tidak
kutanyakan saat itu, "fa, saat itu aku melihatmu menangis saat hujan tadi
pun aku melihatmu menangis saat hujan bisa kau ceritakan padaku?",tanyaku
menatap matanya tajam. "kau memang temanku sin, tapi tidak semua hal yang
kau lihat harus kau tahu!"jawabnya menatap mataku lebih tajam dariku. aku seperti
tertampar selesai dia berceloteh aku diam dan melanjutkan makananku secepat
mungkin. tanpa melihatnya aku langsung menyuruhnya untuk segera tidur.
Aku tidak bisa tidur, karena memikirkan
dan semakin penasaran dengan temanku yang satu itu karena asyiknya, aku pun
tertidur, ke esokan harinya aku bangun dan melihat sifa sudah duduk diteras
rumah sambil meneguk satu cangkir teh hangat buatannya, “hey sudah bangun,ada
teh di dalam untukmu aku sudah buatkan”,katanya tampak berseri-seri,seperti
kesurupan jin baik hati. Aku pun mengambilnya lalu duduk disampingnya, tak ada
kata yang keluar dari mulutku karena masih membayangkan muka dan perkataannya
semalam. Tak ada yang memulai pembicaraan, dia kemudian berceloteh lagi “sin
maaf yah semalam aku sudah membentakmu,kamu sih bertanya tidak tahu tempat”. Belum
aku menjawab dia melanjutkan celotehannya, “sebenarnya ada satu hal yang
membuatku membenci hujan sin, aku sangat membenci itu, sebenarnya sekarang aku
tak berkuliah, lagi aku tak punya rumah dan tak punya tempat tinggal,ini semua
gara-gara hujan … ”, ceritanya tampak tegar dan kesal. Aku hanya bisa diam dan tidak
bisa menyembunyikan kekagetanku, banyak yang dia cerita dan itu adalah hal yang
membuatku kaget tak mungkin seorang sifa melakukan hal sekotor itu tidak bisa ku
bayangkan, dia mulai menangis dan berteriak dia membenci hujan, dia tidak
mengenal tuhan sekarang. Dulu dia rajin sekali shalat dan belajar, tapi
semuanya sirna begitu saja karena ulah kekejaman mereka.
Aku mencoba menenangkannya tak ada yang bias
ku lakukan selain itu. Ke esokan harinya ada dua orang perempuan dating kerumahku
dan mencari sifa, aku mencoba berbohong tapi mereka memaksaku untuk bertemu
sifa, dia memaksa sifa untuk pergi bersama mereka dan mengancam dengan ancaman
yang sama pada cerita sifa barusan, hari ini tampak mendung, memang. Karena bulan
ini bulan hujan kata orang, sifa ikut pada mereka dan aku tak mau tinggal
diam,aku ikuti mereka, kemana mereka membawa sifa, mereka membawa sifa ke salah
satu rumah dekat dari bar malam tempat para wanita malam mencari nafkah, sifa
lalu keluar dengan pakaian yang sangat minim, jatuh air mataku melihat temanku
diperlakukan seperti itu, aku menunggu hingga kedua wanita itu pergi dan
menghampiri sifa dengan hati-hati, sifa memelukku dan berkata “maafkan aku sin
aku bukan wanita baik-baik,aku hanya sampah yang masih tertinggal di tempat ini”,
katanya dengan nada terisak-isak dan pelukannya yang sangat erat. Aku mencoba
tegar untuk membuatnya tenang tapi tidak bisa. Beberapa pertanyaan melintas di
fikiranku, benarkah ancaman itu, benarkah saat hujan itu terjadi seperti cerita
dua wanita itu kepada sifa, ini harus di selesaikan. Aku memberikannya semangat
dan pergi dari tempat itu sebelum dua wanita itu datang lagi.
Aku mencaritahu semuanya selama
berminggu-minggu dan terlihat semua kepalsuan dari dua wanita itu. Aku menemukan
ibu sifa dalam keadaan baik-baik saja dan memang mengira sifa berkuliah
dibandung, oh tuhan temanku sudah tertipu oleh ulah dua wanita itu, aku lalu melaporkan
semuanya kepolisi dan meminta dua wanita itu di penjara, dan aku menjemput
sinta di tempatnya di bawa oleh dua wanita itu untuk membawa kabar gembira, aku
bercerita sedemikian panjang, sebenarnya dua wanita itu hanya memanfaatkan kamu
saja dan tidak terjadi apa-apa dengan ibumu, mereka pun sudah menipu
ibumu,semenjak hujan hebat beberapa tahun itu, kau terpisahkan karena Ibumu
pergi kerumah nenekmu dan dua orang itu memanfaatkan keadaan dengan mengatakan
ibumu sudah mereka tahan karena berhutang. Dia lalu menangis dan berteriak “AH!
Inikah hukuman untukku tuhan, inikah hukuman ketika ku menjauh darimu?,maafkan
aku tuhan”. Aku lalu memeluknya dan berkata “kau memang menjauhi tuhan,tapi
tuhan tak pernah sedetikpun jauh darimu,dengan hujan dia bisa membuatmu
mengeluarkan semua keluh sesahmu,dan tuhan selalu memberikan mu hujan agar kau
sadar ada rencana tuhan dibalik semua yang terjadi”. Hingga saat ini sifa si
anak perempuan manis berkacamata sangat menyukai hujan.
Komentar
Posting Komentar